Sudut Pandang Pemilik Negeri Papua

Anak2 Papua

Oleh : Minda Korwa Rosely ( FSM UKSW )

Salatigacity.com,- Papua itu surga, sangat kaya SDA nya sampai- sampai “Mereka” berkelahi gara- gara SDA Papua, lalu di mana PARA PEMILIK NEGERI?,  mulialah berefleksi.

IPM (indeks Pembangunan Manusia) yang menyangkut pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standart hidup di Papua adalah IPM terendah dari 34 propinsi yang ada di Indonesia yaitu 56,75 %. Bagaimana mungkin hal ini terjadi pada NEGERI yang berlimpah Sumber Daya Alamnya?

Harusnya masyarakat memiliki hak untuk hidup lebih baik, orang Papua adalah orang yang sejak semula berdiam dan di perintahkan Tuhan untuk mengusahakan tempat tinggalnya seperti pada awalnya manusia mula mula (ADAM dan HAWA), di perintahkan untuk mengelola hasil bumi tempat mereka berdiam.

Lalu mengapa bukan orang papua yang mengelola hasil bumi? Mengapa mereka terus menerus meributkan hal-hal yang harusnya menjadi hak masyarakat PEMILIK NEGERI?  Apakah jawabanya karena SDM yang belum siap? Kalau demikian jawabannya muncullah pertanyaan baru, mengapa SDM belum siap? Lalu selama ini SANG PENGELOLAH HASIL ALAM PAPUA kemana? Mengapa mereka begitu SERAKAH tanpa memperhatikan PEMILIK NEGERI? Pembangunan manusia yang diperlihatkan melalui Indeks Pembangunan Manusia tersebut menyatakan Ketidakadilan terhadap PEMILIK NEGERI.

Boleh di PERTAJAM, PEMERINTAH DAN FREEPORT TAK SERIUS MEMBANGUN MANUSIA PAPUA, MEREKA HANYA SIBUK DENGAN PEMBAGIAN UANG. SIBUK MEMPERSALAHKAN MANA YANG BENAR DAN MANA YANG SALAH DAN MASYARAKAT HANYA MENONTON.

Sudah sewajarnya pemerintah dan freeport memperhatikan kualitas manusianya, sudah seharusnya terlahir banyak pengusaha-pengusaha muda yang dapat mengelolah hasil buminya sendiri atau minimal dapat bersaing bukan hanya sebagai pekerja yang digaji kemudian habis atau sebagai penonton karena tak dapat berbuat apa-apa.

Bukankah lebih baik jika masyarakat Pemilik negeri dilibatkan dalam proses pengolahan SDA Papua agar dapat belajar dan kemudian membuka peluang kerja bagi masyarakat lainnya  dan bersama-sama mengelolah hasil buminya sendiri atau  memiliki kualitas yang sama agar sejajar dan dapat bersaing.

Bukankah lebih baik pembangunan melibatkan masyarakat pemilik negeri agar dapat bekerja sama meningkatkan pembangunan dalam berbagai sector. Mulailah berlefreksi karena terlihat serakah ketika Papua yang memiliki SDA yang sangat banyak namun IPM yang menyatakan kualitas Hidup Manusia Papua masih tertinggal bahkan terendah dari 34 propinsi di Indonesia.