Soal Toleransi dan Pluralisme, Belajarlah pada Relawan

relawan salatiga

Oleh : Bambang Setyawan

Saat masih ada pihak- pihak bertikai masalah toleransi mau pun pluralisme, maka, para relawan di Kota Salatiga mau pun Kabupaten Semarang lebih mengedepankan sisi kemanusiaan serta mengabaikan segala perbedaan yang ada. Seperti apa implementasi di lapangan orang- orang tangguh tersebut, berikut catatannya.

Kota Salatiga tahun kemarin kembali dinobatkan menjadi Kota Paling Toleran oleh Setara Institute dengan skor 5,90. Artinya, kota kecil ini memiliki skor yang sama bersanding Manado, Pematang Siantar, Singkawang dan Tual. Sementara lima kota lainnya memiliki skor lebih rendah. Terkait hal tersebut, sepertinya ada  sisi menarik sepak terjang para relawan layak untuk dikupas.

Selain komunitas Lentera Kasih untuk Sesama (Lensa), di Salatiga dan Kabupaten Semarang terdapat beberapa komunitas sosial. Di sini, mereka kerap berkolaborasi dalam berbagai aksi sosial seperti pembagian nasi bungkus, bagi sembako , bedah rumah hingga evakuasi dhuafa yang menderita sakit parah. Untuk yang terakhir, kadang sangat menyita pikiran, waktu mau pun tenaga. Nah, di sinilah apa yang disebut toleransi mulai terlihat nyata.

Keberagaman dalam berbagi nasi bungkus (foto: dok pri)
Keberagaman dalam berbagi nasi bungkus (foto: dok pri)

Lensa yang memiliki relawan aktif sekitar 100 orang, memang tak mempunyai sekat suku, agama, ras mau pun golongan apa pun. Komunitas ini, selalu terbuka untuk siapa pun dan tanpa menilai latar belakangan seseorang. Prinsipnya, selama calon relawan bersedia modal tenaga pun, pasti diterima dengan tangan terbuka. ” Kemanusiaan itu tak mempunyai agama, jabatan serta perbedaan apa pun. Pokoknya, asal tubuh sehat saja, kami terbuka dengan siapa pun,” ungkap Ketua Lensa, Atha yang merupakan seorang prajurit Polri.

Dalam menyasar dhuafa, lanjut Atha, relawan Lensa mempunyai tim survei yang bergerak untuk berburu orang- orang yang membutuhkan bantuan. Setelah terdata, selanjutnya dilaporkan pengurus guna ditentukan bantuan apa yang tepat bagi sasaran tersebut. ” Nah, tim survei dalam menjajaki target, tidak pernah menanyakan perihal agama ,” ungkap Atha.

Begitu pun ketika sasaran dieksekusi, menurut Atha, para relawan dengan beragam latar belakang agama, berbaur menjadi satu. Tak ada perbedaan, mereka membaur tanpa memikirkan status sosial masing- masing. Tujuannya hanya satu, pekerjaan segera tuntas dan kembali menuntaskan yang lainnya. ” Ibaratnya, kami pantang pulang sebelum senyum dhuafa mengembang,” jelasnya.

Apa yang diungkapkan Atha, memang benar adanya. Selama berbulan — bulan mengikuti sepak terjang relawan Lensa, yang namanya toleransi mau pun pluralisme selalu dinomor satukan. Bahkan, ketika menggelar pembagian sembako di berbagai pelosok pedesaan Kabupaten Semarang, mayoritas sasaran adalah orang- orang beragama Islam. Sementara, tak sedikit relawan yang non muslim ikut dalam rombongan.

Sebaliknya, para relawan muslim sendiri, dalam segala aktifitasnya juga mengabaikan perbedaan beragama. Hal itu terlihat pada pembagian nasi bungkus saban Jumat pagi, ibu- ibu muda berhijab, berbaur dengan relawan non muslim lainnya. Saat berada di lapangan, mereka membagikan nasi bungkus ke sasaran yang memiliki beragam agama. Keren memang.

Kartini memotong kuku kaki dhuafa (foto: dok pri)
Kartini memotong kuku kaki dhuafa (foto: dok pri)

Berbagi dengan Hati

Salah seorang relawan yang tak pernah ketinggalan beraksi di lapangan adalah Kartini Riko (35), perempuan berpostur gagah ini, merupakan pemeluk Katholik yang taat. Bahkan, dirinya aktif dalam pelayanan gereja. Kendati begitu, dirinya tak risi memotong kuku janda uzur yang hidup sendirian. Bukan hanya kuku di jari tangan, namun juga di jari kaki. ” Berbagi itu dengan hati, bukan dengan mengedepankan hal- hal berbau SARA,” ungkap Kartini serius.

Begitu pun ketika Lensa menggelar bedah rumah milik dhuafa, Kartini yang nota bene seorang ibu yang tentunya lekat dengan naluri keibuannya, tanpa ragu ikut mengaduk semen dan mengangkati bebatuan untuk fondasi. Bersama relawan perempuan lainnya, ia bahu membahu menuntaskan proyek bedah rumah yang dibiayai donatur.

Terkait dengan keberadaan donatur, selama ini segala pergerakan Lensa memang banyak disokong oleh para donatur yang datang dari berbagai daerah, bahkan ada yang berdomisili di luar negeri. Sayekti, tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja di Singapura, merupakan sosok non muslim. Kendati begitu, ia saban bulan selalu mengirim donasi dan tak pernah mempersoalkan keberadaan bantuannya didistribusikan ke siapa.

Melayani dhuafa yang tengah sakit keras (foto: dok pri)
Melayani dhuafa yang tengah sakit keras (foto: dok pri)

Impelementasi toleransi semakin terlihat nyata ketika Lensa mengevakuasi  Darmi (63) janda dhuafa asal Dusun Kebondowo, Tlompakan, Tuntang, Kabupaten Semarang ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Salatiga. Nenek yang hidup sebatangkara tersebut, menderita kanker kelenjar getah bening akut. Karena terlanjur parah, belakangan lukanya di lehernya pecah dan menjadi sarang belatung.

Rina Harjani (50), relawan Lensa yang merupakan pemeluk agama non muslim, kerap tampil di depan untuk melakukan perawatan. Ia tak segan memunguti belatung- belatung laknat itu, hingga sesudahnya menikmati nasi bungkus di samping ranjang Darmi. ” Semua tergantung pada niat, kalau niatnya tak ikhlas ya tidak bakal kesampaian,” jelasnya.

Rina dan Theresia merawat Darmi janda penderita kanker (foto: dok pri)
Rina dan Theresia merawat Darmi janda penderita kanker (foto: dok pri)

Hingga Darmi dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Karyadi, Kota Semarang, para relawan tetap tak melepasnya. Mereka bergantian berjaga selama 24 jam penuh.Belakangan, faktor jarak menjadi kendala, terkait hal itu, bantuan dari relawan asal Kota Semarang jelas tak mungkin ditolak. Di sini, ada hal menarik yang terabaikan oleh banyak pihak, yakni kehadiran relawan bernama Niko Demus.

Niko Demus adalah pemeluk agama non muslim, sementara Darmi merupakan muslimah yang taat. Niko yang sekujur tubuhnya penuh tato, sepintas memang bertampang sangar. Namun, dirinya bersedia menjaga dhuafa tersebut di ruang perawatan selama 12 jam penuh. Namanya menunggu orang sakit parah, tentunya juga melayani segala keperluan pasien lengkap bersama tetek bengeknya.

Demikian pula dengan Theresia Retno Widayatsih, guru asal Kota Salatiga yang memang aktif di berbagai komunitas sosial ini, memaksa dirinya mengendarai sepeda motor ke RSUP Karyadi. Bukan sekedar membezuk, namun ia juga ikut menjaga Darmi hingga 12 jam lebih. Menurutnya, pluralisme merupakan hal yang lumrah dan tidak perlu diperdebatkan.

Niko, pemuda penuh tato yang menunggui Darmi (foto: dok pri)
Niko, pemuda penuh tato yang menunggui Darmi (foto: dok pri)

Wisnu, penasehat Lensa yang juga pendiri komunitas ini, kebetulan juga sosok non muslim lumayan taat. Dirinya, juga tak pernah mempersoalkan apa pun aktifitas relawan mau pun tagetnya. Bahkan, setiap kegiatan bakti sosial, pria bertubuh ramping itu selalu ikut di dalamnya, termasuk turun ke lapangan berbaur dengan dhuafa di pedesaan.

Begitulah sedikit catatan kecil tentang toleransi dan pluralisme di kalangan relawan, mereka tak pernah dicekoki pentingnya perbedaan. Namun, mereka mampu mengimplementasikan di lapangan tanpa teori yang njlimet. Jadi, tak ada salahnya kalau mau belajar soal toleransi mau pun pluralisme, datanglah ke para relawan ini. Percayalah, mereka lebih jago untuk urusan — urusan tersebut. (*)