Rohingya dan Kemanusiaan Kita

rohingya di myanmar

Oleh : Yakub Adi Krisanto

Kekerasan terhadap ethnis Rohingya di Myanmar kembali mencuat dan menjadi perhatian dunia termasuk Indonesia. Respon kepedulian terhadap kekerasan mengemuka dan mendominasi pembicaraan di berbagai media, khususnya media sosial. Solidaritas menyeruak, dorongan agar pemerintah nengambil sikap kepada Myanmar juga muncul.

Pemerintah dengan sigap mengutus Menlu Luar Negeri dan mengirim bantuan kemanusiaan. Seiiring dg langkah pemerintah, aksi protesĀ dan penggalangan bantuan untuk Rohingya mengalir kuat. Pemerintah dan masyarakat seolah bersinergi utk Rohingya, mencari dan memberi solusi atas kekerasan terhadap ethnis Rohingya.

Itu semua patut di apresiasi! Kemanusiaan yang adil dan beradab termanifestasi dengan indah dalam kasus Rohingya. Respon atau reaksi terhadap kekerasan ethnis Rohingya mendahului pemahaman secara komprehensif atas akar atau latar belakang terjadinya kekerasan tersebut. Bahkan seorang mantan menteripun mengalami ‘selip’ jari dengan mengunggah berita/foto hoax ttg kekerasan terhadap Rohingya.

Rohingya adalah etnis minoritas beragama Muslim yang ada di Myanmar, selain ethnis Kachine yang minoritas Kristen. Bahwa menjadi ‘kelaziman’ di dunia dimana minoritas (suku, agama, ideologi) sering mengalami kekerasan atau penindasan dari mayoritas. Perlindungan minoritas (minority right) yang menjadi salah satu prinsip demokrask sering di abaikan. Pengabaian tersebut berkaitan dg hakekat demokrasi yang mengalami distorsi pemahaman hanya sebatas voting (suara terbanyak/mayoritas yang menang).

Apa yang terjadi terhadap ethnis Rohingya bisa menjadi refleksi kita, bamgsa Indonesia. Rohingya yang mengalami kekerasan, dan memilih keluar dari tanah kelahirannya untuk menghindari potensi pemusnahan ethnis. Tudingan diarahkan ke penguasa Myanmar yang mayoritas Buddha sebagai pelaku dan atau melakukan pembiaran terjadinya kekerasan.

Sudah lupakah kita terhadap kekerasan terhadap minoritas suku dan agama di beberapa wilayah Indonesia. Ahmadiyah, pelarangan tempat ibada, pemeluk agama lokal, kelompok LGBT adalah contoh minoritas yang mengalami kekerasan dari mayoritas di Indonesia. Apakah dengan respon terhadap Rohingya yang minoritas di Myanmar, kita akan bersikap sama terhadap kekerasan ke minoritas yang terjadi di Indonesia.

Kemanusiaan kita sebagai bangsa mengalami tantangan dan ujian utk tdk bersikap diskriminatif, antara dalam negeri dan luar negeri. Pancasila khususnya sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Rohingya adalah tragedi kemanusiaan. Indonesia tampil dominan di kancah international utk mencari solusi kekerasan tersebut. Semakin indah apabila bangsa ini juga peduli terhadap kekerasan yg dialami oleh minoritas di Indonesia.

Rohingya mempertegas pendapat Gandhi, ‘my nationality is my humanity.’ Kebangsaan kita adalah kemanusiaan yang akan mendorong utk selalu berbuat baik kepada siapapun tanpa memandang suku, agama, ras dan antar golongan bahka melampaui batas-batas negara.