Minda Korwa Rosely : Budaya untuk inovasi

budaya

Budaya lahir dari kebiasaan yang berulang, kita mandi, makan, tidur, jalan-jalan merupakan suatu aktifitas yang dilakukan setiap hari bahkan menjadi rutinitas yang terus menerus dilakukan sehingga menjadi budaya.Budaya itu seperti hidup itu sendiri, jika tidak ada budaya makan, minum, tidur maka manusia akan mati, jika tidak ada budaya mandi, maka manusia akan diserang beberapa penyakit dan kemudian setelah lama kemudian akan mati, bayangkan jika tidak ada budaya.

Budaya bukan hanya sebatas seni yang indah dan asik untuk dinikmati, budaya adalah tanda peradaban, budaya kita hari ini, berbeda dengan budaya mereka pada jaman dahulu, dan akan berbeda dengan budaya pada masa yang akan datang,  hal ini karena tuntutan jaman yang berbeda, ekspresi budaya jaman dulu berbeda dengan jaman sekarang, dan akan berbeda dengan budaya dimasa yang akan datang, contoh ekspresi budaya seperti seni tari dan musik, ukir-ukiran, makanan khas, objek wisata dll bebeda di tiap tempat dan jamannya istilah kerennya berbeda di tiap ruang dan waktu, yang menarik adalah ekspresi budaya setiap jaman ini ada sebuah data yang besar, kompleks dan mengandung begitu banyak informasi, dan tentu berlangsung dinamis dan berevolusi seiring jamannya, dipakai untuk bertahan hidup dan memberikan informasi untuk dapat bertahan hidup.

Ekspresi budaya dari jaman ke jaman ini adalah sebuah data yang sebenarnya dapat menjelaskan evolusi budaya itu sendiri, data ekspresi budaya ini juga dapat menjadi sumber informasi untuk dapat mengetahui pola perkembangan jaman, ekspresi budaya ini juga mengandung informasi bagaimana seseorang itu hidup pada masanya baik itu tentang bagaimana filosofi hidup yang dianut, keadaan  ekonomi,keadaan sosial politik dan IPTEK. Ekspresi budaya ini sendiri dapat diwariskan atau dapat diturunkan kepada anak cucu ,ada ekspresi budaya yang masih ada dari jaman dulu hingga sekarang dan berusia ratusan bahkan ribuan tahun, ada pula ekspresi budaya yang telah punah seiring waktu. Ekspresi budaya itu mengandung tanda-tanda atau kode-kode yang dapat di teliti seperti apa kehidupan jaman budaya itu ada.

Koleksi-koleksi data ini dapat dipakai untuk penelitian yang mengungkapkan tentang apa dibalik data-data tersebut, ada apa di balik kode-kode yang terdapat didalam ekspresi budaya itu sendiri. Seperti apa kehidupanzaman itu , adakah yang bisa diambil untuk dipakai sebagai informasi untuk inovasi?.

Sebagai contoh penjabaran kode-kode ekspresi budaya (lukisan) pada abad ke 15.  Contohnya lukisan The last Supper dan Smaradana.

the last supper

smaradhana

The last supper yang dilukis oleh Leonardo Davinci tepatnya di kota milan Italia, Benua Eropa , lukisan ini dibuat dengan menggunakan geometri, perspektif dan alat-alat ukur untuk menghasilkan lukisan The Last Supper itu. Hal ini menandakan modernisme telah lahir.  Sedangkan di Bali, terdapat lukisanSmaradana yang dilukis dengan pola memenuhi kekosongan bahan, tidak berusaha mengikuti gambaran aslinya( acak-acakan) dan juga polanya berulang.  Demikian lah perbedaan kedua lukisan ini, dimana kedua lukisan ini dikenal bernarasi religius tetapi di buat dalam cara dan gaya berpikir dan tempat yang berbeda pada abad yang sama.

Pola gaya berpikir orang indonesia pada jaman dulu ini juga digunakan untuk membuat batik dimana inspirasi diperoleh dari alam, dan kemudian dituangkan pada selembar kain dan berpola mengisi kekosongan dan berulang, demikian juga berlaku pada anyam–anyamandan sulur-suluran.Orang–orangdengan gaya berpikir seperti inilah yang membanguncandi Borobudur pada abad ke-8, objek wisata termegah dan candi budha terkompleks sejagad. Borubudur dibangun dengan menggunakan dengan pola berulang dimana stupa yang kecil di dalam stupa yang besar, begitu seterusnya. Setelah diteliti, Geometri yang mampu menjelaskan pola ini adalah geometri fraktal, geometri fraktal ini baru di temukan pada abad ke 19, dimana ciri khas geometri ini adalah geometri pecahan, dan juga berulang, borubudur dibangun dengan perbandingan 4 : 6: 9 dengan dimensi pecah 2.3252 atau dengan kata lain berada diantara dimensi 2 (bidang) dan 3 (ruang). Juga Pada lukisan Smaradana tadi yaitu berada pada dimensi 1 dan 2, demikian juga pada batik dan sulur-suluran  dsb.

Sementara itu adapun model komputasi yang mampu memodelkan pola-pola kompleks ini salah satu contohnya, di ilmu biologi, otomata selular ini mampu menghasilkan pola yang mirip dengan lukisan pada cangkang kerang conus textile.  lukisan pada cangkang kerang tentu terbentuk alami dengan menggunakan  geometri alam, artinya tidak dengan ilmu ukur saat lukisan ini terbentuk, tetapi dengan sendirinya dan memiliki pola yang dapat di rekam melalui automata selular. Geometri inilah yang mirip dengan geometri yang di gunakan orang Indonesia jaman dulu untuk melukiskan / mengekspresikan budaya mereka, secara alami , terispirasi dari alam tanpa alat ukur maupun ilmu ukur.

Selain Objek wisata Borubudur, adapun objek wisatasitus GunungPadang di Jawa Barat, tempat yang dikenal sebagai tempat penyembahan agama kuno ini ternyata meyimpan banyak pengetahuan dimana ada tempat dapat membaca pola-pola alam berdasarkan benda- benda langit, orang dulu menggunakannya sebagai penanda kapan mulai menanam, kapan harus siaga terhadap hama, kapan musim hujan dan kapan musim kemarau. Kemudian adapun batu-batu yang tersusun rapi dengan bentuk yang mirip dan tertata rapi di gunung tersebut menghasilkan nada-nada yang di duga dipakai orang-orang dulu sebagai alarm bagi masyarakat sekitar. Ini merupakan suatu penegtahuan yang masih harus diteliti lebih lagi.

Pola-pola hidup orang Indonesia jaman dulu ini yang terekam dalam ekspresi budaya dan diteliti pada saat ini di harapkan menjadi sumber inspirasi  untuk inovasi–inovasi baru  baik dalam bidang IPTEK, Ekonomi, Sosial, politik untuk mengisi pembangunan nasional.

Sumber : kode kode nusantara.