Mewujudkan Salatiga “Smart-City” (Smart Young Generation)

salatiga

Oleh : Ulan Hernawan

Salatiga,- Tulisan ini berisi tentang harapan, impian dan cita-cita untuk para generasi muda di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Ya, kota Salatiga. Juga, tidak menutup kemungkinan ini sebuah pesan untuk para pemimpin daerah, pemangku kebijakan, serta stakeholder di kota ini.

Dalam tulisan ini diharapkan anak-anak muda Salatiga khususnya, mulai“aware”, secara sadar bahwa Salatiga sedang menuju menjadi salah satu “SmartCity” di Indonesia. Ini adalah bagian pertama dari beberapa sub pokok pembahasan. Dimana muatannya lebih mengajak generasi penerus untuk lebih “smart”, edukatif, peduli lingkungan sekitar, sensitif perilaku sosial, dan aktif.

#Salatiga, “A Good Place” untuk Anak Muda dengan “Good Self-Inner And Attitude”

Halo para rekan-rekan, adik-adik, mas dan mbak kota Salatiga yang membanggakan. Ini kesempatan yang baik untuk berbagi pesan kebaikan untuk kota tercinta kita. Ya, Salatiga akan dan sedang menuju ke kota yang lebih modern dengan konsep “smart city”. Konsep“smart city”, yang artinya kota pintar, kota cerdas, kota nyaman, kota impian untuk masyarakat baik asli maupun pendatang diharapkan menjadi daya tarik untuk Salatiga. Kalian bisa mencari makna kota “smart-city”di internet maupun sumber lain.

Hampir semua negara2 maju, yang tiap kota nya menggunakan konsep ini. Katakanlah negara Eropa seperti Jerman, Perancis, Inggris dan lain-lain, atau negara maju di Asia seperti Jepang, Korea-Selatan, Singapura menggunakan dan menerapkannya dengan baik di kota-kota kecil mereka. Di Indonesia, penerapan kota dengan konsep “smart-city” masih berkembang. Kota seperti Bandung, Jogja, mungkin adalah kota yang mendekati konsep kota“smart-city”.

Konsep kota “smart-city”, tidak bisa dilihat hanya dengan beberapa aspek saja, namun banyak aspek yang harus dipenuhi untuk meraih gelar bergengsi ini. Mulai dari aspek ekonomi, sosial, politik, geografis, pendidikan, pariwisata, keamanan, teknologi informasi, transportasi, sumber daya manusia, sumber daya alam, dan lain-lain. Syarat-syarat tertentu juga berpengaruh dalam penilaian, bahkan hal yang sederhana pun juga ikut andil untuk menunjang prestasi sebuah kota.

Contoh dalam aspek ekonomi apakah kota (Salatiga) memiliki pendapatan daerah yang mumpuni, level pengangguran yang kecil, lapangan kerja yang bervariasi, atau keadaan masyarakat yang sejahtera. Belum lagi keadaan tata ruang kota, mulai dari kebersihan, kerapihan, bangunan bersejarah dan modern dan lain sebagainya yang tampak secara visual juga berpengaruh dalam penilaian. Hal-hal tersebut nanti akan dibahas dalam sub pokok pembahasan berikutnya.

Sebelum memulai pembahasan yang rumit dan kompleks, ada baiknya memperkenalkan konsep “smart-city” ke generasi muda adalah dengan memberikan propaganda, bujukan, pemahaman, atau pendidikan yang sederhana.

Saya percaya, anak muda Salatiga aktif, pintar, “good behaviour”, modern, mengikuti perkembangan teknologi dan informasi terkini yang diharapkan mampu menjadi generasi penerus di masa depan untuk mewujudkan kota Salatiga menjadi kota bertaraf internasional. Untuk menjadi kota tersebut, akan lebih baik bila fondasinya dibangun dengan kuat terlebih dahulu. Ya, fondasi SDM (sumber daya manusia) yang baik dan “high quality”. Bila konsep kota pintar tidak dibangun dari fondasi itu, maka akan sulit untuk menggapainya.

Alhasil, seperti sebuah senjata, secanggih dan sehebat apapun sebuah senjata, tergantung dari siapa yang memegangnya/menggunakannya dan untuk tujuan apa. “Man behind the gun”. Kota Salatiga adalah senjata kita untuk bersaing dengan kota-kota lain, dan para generasi muda adalah “resource”yang berharga untuk mewujudkan itu semua.

Namun, apabila para generasi muda Salatiga sudah “tidak karuan”, dan tidak memiliki visi yang sama terhadap kemajuan kota ini, maka impian hanyalah impian. Pertanyaan yang muncul adalah, sudahkah anak-anak muda usia produktif dalam belajar dan bekerja di Salatiga“high quality”? Sudahkah para pelajar, sarjana dan pekerja mumpuni dalam “attitude” dan “behaviour“? Atau mungkin yang ada, hanyalah sekumpulan anak muda yang “kemaki” -bahasa jawa-, yang artinya arogan, sok pamer dan hanya senang bergaya?

Ini adalah pekerjaan rumah masing-masing pemuda dan pemudi Salatiga untuk memperbaiki “self-inner” dengan cara yang baik. Kita tidak ingin dikenal sebagai anak muda yang hanya suka nongkrong tak berkualitas. Kita tidak ingin dikenal sebagai anak muda yang doyan mabuk-mabukan dan narkoba. Kita tidak ingin dikenal sebagai anak muda yang kerap tawuran.

Tapi, kita ingin dikenal sebagai anak muda yang berkarya untuk bangsa, berguna dan berperan dalam kemajuan desa dan kota. Bukankah ada sedikit perasaan malu, bila ternyata yang membangun dan membuat kemajuan kota Salatiga, justru para pendatang yang memiliki kesempatan dan mengambilnya.

Saat ini perkembangan kota Salatiga dari tahun ke tahun mengalami kemajuan pesat dan lebih hidup. Dulu, Salatiga yang hanya dikenal sebagai kota pendidikan dan olahraga dan kota pensiunan, yang notabene jam 7 malam jalan-jalan sudah sepi, penjual sudah menutup dagangannya. Namun, sekarang cafe atau kedai kopi bertaburan di segala penjuru kota, tempat makan asik, hiburan dan hotel bermunculan disana sini. Bahkan dari segi infrastruktur, jalan-jalan dan taman kota yang tertata lebih rapi dan bersih menghias jalanan.

Sarana penunjang pendidikan pun juga lebih bervariasi, muncul “hot spot” wifi-internet yang memiliki “high speed” di mana-mana. Kemudian perpustakaan daerah yang lebih bagus dan sering mengadakan bazar buku murah di halamannya. Area wisata sekitar Salatiga juga tidak luput dari perbaikan terus menerus. Hiburan dan pameran pembangunan yang rutin diadakan menunjukkan ada pembangunan yang lebih maju tiap tahunnya. Hal itu semua sebenarnya bisa dimanfaatkan para generasi muda untuk berkarya lebih.

Seiring perkembangan tersebut, ada baiknya anak muda Salatiga tetap berpegang pada “self-inner”yang baik. Bukan memanfaatkannya dengan hal yang kurang pantas. Contoh nyata adalah ternyata tidak sedikit anak muda Salatiga yang masih mengedepankan “kemaki” nya dengan sering menggunakan jalan raya sebagai ajang unjuk gigi. Balapan liar, knalpot “blombongan”, perjudian, “mabuk berjamaah”, premanisme, nongkrong “tak berkualitas” sampai pagi, bahkan sering dijumpai pula prostitusi terselubung di area nongkrong tersebut. Ini sebuah kritik, sindiran dan pesan dari lingkaran masyarakat kecil,menengah, masyarakat atas, para penegak hukum, pendidikan, serta pembuat kebijakan. Kami tidak ingin Salatiga tercemar karena kurangnya pemahaman masyarakatnya sendiri. Maka dari itu a good-self-inner” perlu dibentuk sejak dini.

Salatiga dikenal dengan banyak prestasi dari pendidikan dan olahraga di Jawa Tengah. Banyak sekolah negeri dan swasta berkualitas, ada universitas dan sekolah tinggi. Juga letak strategis yang menghubungkan kota Semarang, Solo, Magelang, Jogja adalah keuntungan dari Salatiga dari berbagai aspek. Terletak di kaki gunung Merbabu dengan udara sejuk, memiliki area wisata rawa dan nuansa pegunungan, juga terkenal dengan sumber mata air yang jernih adalah kondisi geografis yang orang ingin menghabiskan sisa hidupnya di kota yang tenang ini.

Sepengetahuan saya, jarang sekali ada bencana alam di Salatiga. Pembangunan ring road dan jalan tol yang telah selesai pun sangat membantu perekonomian Salatiga. Potensi Salatiga sangatlah besar di masa mendatang dan hanya generasi muda sekarang yang mampu mewujudkannya. Jangan sia-siakan masa muda hanya untuk menjadi “kemaki”, tapi “kemaki” yang berkualitas lah yang membangun negeri ini.

Ini adalah propaganda awal untuk anak-anak Salatiga, baik yang masih berdomisili, maupun yang sedang berada di tanah perantauan. Kembali ke desa, membangun desa dan kota asal adalah kebanggaan sebagai putra daerah. Selagi masih ada kesempatan untuk mewujudkan “Salatiga Smart City”.