Mengubah Ban Bekas Menjadi Barang Berharga

Ban Bekas

Oleh : Bambang Setyawan

Salatiga,- Apa yang anda kerjakan saat melihat atau memiliki ban bekas? Dibuang begitu, paling banter diberikan pada tukang tambal ban. Yang terjadi di Salatiga sebaliknya, limbah karet tersebut mampu diubah menjadi berbagai barang berharga yang sangat layak dijual.

Tangan- tangan kreatif yang piawai membuat ban bekas menjadi tas, dompet, gantungan kunci, souvenir bahkan tas laptop ini tergabung dalam Komunitas Sapu Salatiga (KSS) yang bermarkas di kampung Gambirsari, Randuacir, Argomulyo, Kota Salatiga. Sedang perintisnya adalah Sindu Prasetyo, pria berumur 33 tahun yang sebelumnya dikenal sebagai aktifis lingkungan.

Senin (18/1) sore, sembari jalan-jalan sore (JJS), saya bertandang ke lokasi home industri pengolahan ban bekas. Tak sulit menemukan rumah yang dijadikan markas KSS. Sebab, rumah yang digunakan untuk pusat aktifitas berbeda dengan rumah warga lainnya, yakni berbentuk joglo khas Jawa. Begitu tiba di areal KSS, terlihat beberapa pekerja tengah sibuk menggarap berbagai pesanan. Bahkan meski sudah pk 16.45, mereka belum menghentikan pekerjaannya masing- masing.

Usai melihat-lihat barang-barang yang diproduksi KSS, saya sempat berbincang dengan Sindu selaku inisiator kelompok warga kreatif ini. Menurutnya, mengolah bahan baku berupa ban bekas hingga menjadi benda yang layak jual, disebut merupakan proses “upcycle”. Awalnya bukan pekerjaan yang mudah, namun berbekal ketelatenan, akhirnya membuahkan hasil.

Tas ban bekas ini harganya Rp 500 ribu (foto: bamset)
Tas ban bekas ini harganya Rp 500 ribu (foto: bamset)

Menurut Sindu, ide kreatifnya berawal saat ia bergabung di LSM Tanam untuk Kehidupan (TUK) Kota Salatiga yang aktif menangani bidang lingkungan. Dari mulai tahun 2006-2010, dirinya banyak mendapat ilmu tentang proses daur ulang berbagai limbah. “ Tahun 2010, ide menciptakan sesuatu dari ban bekas mulai muncul,” jelasnya.

Ban yang digunakan Sindu adalah ban dalam truck, setelah dibelah, ia membuat pola sesuai desain. Usai dipotong mengikuti pola, selanjutnya dijahit membentuk dompet, tas, souvenir dan barang- barang lainnya. Dalam memilih ban bekas, dirinya sengaja mengambil ban natural yang kandungan karetnya tinggi. Sedang ban sintetis sengaja diabaikan karena selain kurang kuat, kelenturannya juga kalah jauh. “ Ban sintetis kalau dijahit kerap pecah, tapi kalau yang natural sangat lentur,” kata Sindu.

Sebelum ketemu dengan bahan baku ban bekas, Sindu pernah mencoba membuat barang dari bahan plastik, namun karena menilai plastik memiliki banyak kelemahan, khususnya soal keawetan, akhirnya ia melakukan eksperimen menggunakan ban bekas. Kebetulan, stock bahan baku berupa ban bekas berlimpah karena tiap tahun pengguna kendaraan truck sering menggantinya.

Sindu sengaja memilih ban bekas jenis truck besar, pasalnya, selain lebar bila dibentang, juga ketebalannya sangat mendukung untuk dibuat menjadi tas. Di awal memulainya, ia bekerja sendirian. Mulai menggarap bahan baku, membuat desain hingga memasarkannya, semua dia lakukan sendiri. Omzet yang dicapai pun, sangat mengecewakan, hanya Rp 1 juta / bulan.

Tas lap top buatan KSS (foto: bamset)
Tas lap top buatan KSS (foto: bamset)

Tembus Belanda, Perancis, Inggris dan Australia

Dengan cara menitipkan dagangannya di dua took yang ada di Yogyakarta, perlahan berbagai barang buatan Sindu mulai mendapat respon yang menggembirakan. Banyak wisatawan asing yang terkesima ketika mengetahui tas, dompet, gelang dan asesoris lainnya itu ternyata dibuat dari bahan baku ban bekas. “ Karena prospeknya kayaknya bagus, akhirnya saya mulai berfikir pentingnya orang yang membantu saya. Untuk itu, saya merekrut lima orang,” ujarnya.

Hingga memasuki tahun 2012, peruntungannya semakin bersinar. Omzet secara perlahan tetapi pasti merangkak naik hingga menembus angka Rp 15 juta/ bulan. Karena pesanan berdatangan, belakangan ia menambah pekerjanya menjadi 10 orang untuk menggarap  pesanan sebanyak 1.250 item barang. Hebatnya, 1000 item merupakan pesanan dari negara  Belanda, Perancis, Inggris dan Australia. Sedang yang 250 diecerkan serta  disetorkan ke Yogyakarta serta Bali yang jadi pelanggannya sejak awal.

Aneka dompet pria buatan KSS (foto: bamset)
Aneka dompet pria buatan KSS (foto: bamset)

Sukses Sindu menembus pasar manca negara,tak pelak berdampak pada omzet yang diraihnya. Bila sebelumnya hanya berkutat di angka Rp 15 juta/ bulan, belakangan ia mampu meraup omzet Rp 70 juta/ bulan. Berkaitan hal tersebut, dirinya berencana untuk membeli lahan guna mengembangkan usahanya pada skala lebih besar. Bila lahan sudah terbeli, dirinya berencana membangunnya menggunakan barang bekas yang layak pasang.

Kreatifitas Sindu yang terus berinovasi tiada henti tersebut, sekarang sudah mendapatkan apresiasi dari konsumen. Tak heran bila rentang harga barang yang diproduksinya dipatok antara Rp 20 ribu hingga Rp 500 ribu tetap laris manis. Barang paling mahal, yakni Rp 500 ribu berupa tas wanita yang konon diklaim awet, kokoh, tahan jamur , trendi dan bisa digunakan seumur hidup.

Sepatu buatan KSS yang lagi diuji coba (foto: bamset)
Sepatu buatan KSS yang lagi diuji coba (foto: bamset)

Belakangan Sindu mulai risau soal sumber daya manusia yang dimilikinya, di mana untuk merekrut karyawan baru, jadi persoalan tersendiri. Sebab, bila karyawan lama diminta untuk mengajari terlebih dulu, bisa dipastikan pesanan bakal kedodoran. Begitu pula soal desain, karyawannya kurang berani mengembangkan diri sehingga masalah desain masih bergantung pada dirinya.

Etalase yang buat majang barang juga dari kayu bekas (foto: bamset)
Etalase yang buat majang barang juga dari kayu bekas (foto: bamset)

Sindu yang setiap harinya memproduksi 30 item barang, juga dirisaukan dengan banyaknya orang yang meniru barang buatannya. Terkait hal tersebut, ia berencana mematenkan temuannya itu. “ Ke depan saya masih akan terus berinovasi membuat barang dari limbah lainnya. Tentunya tetap dengan konsep ‘upcycle’, soal bahan bakunya mungkin menggunakan logam,” ujarnya mengakhiri perbincangan kami.

Apa yang dikerjakan Sindu, tentunya sangat layak diapresiasi. Bukan hanya tentang pengolahan limbah ban bekas, namun, di Kota Salatiga yang miskin industri, tentunya berdampak pada sepinya lowongan pekerjaan. Saat anak muda seumuran dirinya berlomba mencari pekerjaan, ia malah mampu menciptakan pekerjaan. Pertanyaannya, kenapa hal ini tak ditiru oleh para pencari kerja yang lain ? (*)