Mbah Jono, Kakek Dhuafa yang 20 Tahun Tinggal di Areal Makam

Mbah Jono di depan rumahnya yang minimalis (foto: dok pri)Mbah Jono di depan rumahnya yang minimalis (foto: dok pri)

Oleh : Bambang Setyawan

Sujono, kakek renta berusia 87 tahun warga Jalan Veteran RT 002 RW 010, Mangunsari, Sidomukti, Kota Salatiga, hampir 20 tahun lamanya mendirikan rumah di areal pemakaman Sasono Mukti. Lelaki lajang tersebut sengaja tinggal di tempat pemakaman umum akibat kemiskinannya. Seperti apa kehidupannya? Berikut penelusurannya.

Areal pemakaman umum Sasono Mukti, terletak di belakang Pasar Rejosari Kota Salatiga. Seperti galibnya lokasi kuburan, siang mau pun malam situasinya sangat sepi dan serasa ada aura yang beda. Kendati begitu, di bagian pojok barat, hidup Sujono yang biasa disapa Mbah Jono. Ia mendirikan rumah berukuran sekitar 4 X 6 meter berdinding triplek serta beratap seng.

Laki- laki yang lahir tanggal 15 Mei 1931 ini, keberadaannya terdeteksi oleh relawan Lentera Kasih untuk Sesama (Lensa). Melihat kondisinya yang serba memprihatinkan, para relawan menjadikannya target sasaran bantuan rutin, baik berupa nasi bungkus mau pun sembako. Konon, dirinya masih memiliki keluarga, namun sengaja hidup sendirian karena enggan merepotkan keluarganya.

Menerima bantuan sembako dari relawan Lensa (foto: dok pri)
Menerima bantuan sembako dari relawan Lensa (foto: dok pri)

Penasaran dengan sosok dhuafa tersebut, akhirnya saya mengunjunginya. Ternyata, kondisinya memang sangat memprihatinkan. Apa yang disebut rumah, sebenarnya lebih mirip barak proyek. Terdiri atas dua ruangan, yakni teras dan kamar tidur. Di tempat peraduan, terdapat kasur busa lecek tanpa sprei sementara di terasnya terlihat kasur lecek berikut beragam barang bekas.

Rumah dhuafa ini, saking minimalisnya sehingga tak nampak adanya meja kursi mau pun perabot lainnya. Beragam barang bekas hanya teronggok di beberapa sudut. Untuk hiburan di waktu malam, Mbah Jono hanya mendengarkan suara jangkrik serta katak. Tidak ada pesawat televisi mau pun radio, baginya, hiburan terindah adalah tidur nyenyak didampingi nisan-nisan.

Karena memang usianya sudah uzur, otomatis indera pendengarannya telah berkurang. Awalnya Mbah Jono enggan membuka jati dirinya, namun, melalui diplomasi rokok kretek, akhirnya pertahanannya runtuh juga. “Saya kelahiran Desa Manggihan, Getasan, Kabupaten Semarang. Tapi, sejak remaja sudah hidup di Kota Salatiga,” ungkap lelaki buta huruf ini.

Diplomasi kretek untuk mencairkan suasana (foto: dok pri)
Diplomasi kretek untuk mencairkan suasana (foto: dok pri)

Lahir di zaman pemerintahan kolonial Belanda, Mbah Jono sudah merasakan kegetiran atas sikap para penjajah. Ayahnya bernama Sodikromo, sedangkan ibunya Kaliyem. Sang  ibu sudah meninggal zaman pendudukan Jepang, pasca kemerdekaan, ayahnya menyusul ibunya. Praktis, sejak ditinggal orang tuanya, ia hidup sendirian. ” Tanah tinggalan orang tua sudah habis dibeli orang dengan cara mengakali saya,” jelas Mbah Jono.

Dalam kondisi miskin, akhirnya Mbah Jono remaja berpetualang ke Kota Salatiga. Bertahun-tahun ia tidur di masjid yang terletak di Kampung Bon Sari, hingga akhirnya ditampung warga yang tinggal di selatan Pasar Rejosari. Karena warga yang menampungnya menempati lahan negara dan harus meninggalkan lokasi, akhirnya sejak 20 tahun lalu dirinya mendirikan gubuk di areal pemakaman hingga sekarang ini.

Untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, Mbah Jono membersihkan makam milik siapa pun. Kadang ia menerima upah ala kadarnya, namun misal tak diberi pun, dirinya pantang meminta. Sebab, menurutnya, yang mengawasinya adalah roh-roh yang dikuburkan, bukan orang-orang yang hidup. “Selain membersihkan makam, saya mencari barang-barang bekas yang dibuang warga,” jelasnya.

Teras rumah mbah Jono yang lumayan sejuk (foto: dok pri)
Teras rumah mbah Jono yang lumayan sejuk (foto: dok pri)

Tanpa Lampu Penerangan

Tinggal di rumah mungil tanpa pintu, dengan atap berupa seng, menurut Mbah Jono banyak sensasinya. Apa lagi di malam hari saat hujan turun, otomatis suara seng yang kejatuhan air hujan, menimbulkan suara mirip drum band yang tak berirama. Celakanya, ia selalu dalam kegelapan malam karena rumahnya tidak mempunyai aliran listrik.

Di musim penghujan seperti sekarang ini, rasanya lengkap sudah derita Mbah Jono. Demikian pula saat akan buang hajat, karena rumahnya memang tak memiliki fasilitas MCK, otomatis ia harus melepasnya di toilet Pasar Rejosari. ” Kalau mandi, biasanya saya ke rumah bu Isami di Tegalrejo yang berjarak sekitar 300 meter dari sini,” jelasnya seraya menunjuk arah rumah bu Isami.

Mbah Jono sendiri mengakui, dokumen kependudukan yang dimilikinya, yakni KTP dan KK, semuanya beralamat di jalan Veteran. Selain memegang kartu Indonesia Sehat untuk berobat, ia saban 3 bulan juga menerima bantuan sebesar Rp 500 ribu dari Pemerintah Kota Salatiga. Dengan kondisinya yang seperti itu, dirinya mengaku sudah bahagia.

Begini peraduan mbah Jono (foto: dok pri)
Begini peraduan mbah Jono (foto: dok pri)

Menurutnya, separah apa pun kondisi sekarang, masih lebih parah saat pendudukan zaman Belanda mau pun Jepang. Di mana, ketika para penjajah masih bercokol di Republik ini, untuk makan saja orang kelabakan. Ia pernah merasakan makan bonggol pisang yang dimasak ibunya karena tak memiliki stock makanan lain.

“Saya juga mengalami memakai baju dan celana dari karung goni yang banyak kutunya, sedangkan sekarang ini, di mana-mana banyak yang jual pakaian. Jadi ya disyukuri saja apa pun kondisinya,” ungkap mbah Jono sembari terkekeh.

Filosofi hidup Mbah Jono sendiri sangat sederhana, baginya dengan bertingkah laku baik, maka orang pun akan berbaik-baik terhadap dirinya. Begitu pun soal makan, ia bukan tipe orang serakah. Di mana, bila usai makan maka meski ditawari makanan senikmat apa pun, pasti ditolaknya. “Orang makan itu kalau lagi lapar, bukan kalau ada kesempatan,” jelasnya.

Begini suasana areal pemakaman Sasono Mukti (foto: dok pri)
Begini suasana areal pemakaman Sasono Mukti (foto: dok pri)

Ketika disinggung soal statusnya yang belum pernah menikah, Mbah Jono mengatakan bahwa dirinya sejak muda hidup miskin. Terkait hal tersebut, tak mungkin ada perempuan yang bersedia dinikahinya dan diajak hidup melarat. Jadi, tidak perlu heran kalau di dalam kesendiriannya ia teramat menikmati. “Pokoknya, hidup dijalani saja. Bahagia atau tidak, tergantung cara kita menikmatinya,” tandasnya.

Sebelum mengakhiri perbincangan, Mbah Jono sendiri sempat berpesan bahwa dirinya akan hidup di areal pemakaman sampai akhir hayat. Semisal nantinya dipanggil Allah, ia ingin dimakamkan di tempat ini. Maklum, selama 20 tahun berkutat  di makam Sasono Mukti, dia mengaku sangat mengenal tiap jengkal tanahnya.

“Kalau suatu saat saya meninggal, terserah mau diletakkan di bawah pohon Kamboja ya boleh, mau dikubur ya syukur. Wong saya juga tidak tahu,” ungkapnya enteng. (*)