KISAH CINTA SOEKARNO DI KOTA SALATIGA, Berawal dari Sayur Lodeh

327639_soekarno_663_382

327639_soekarno_663_382

Jelang siang pada 1952, pekik “merdeka” bersahut-sahutan di Bundaran Taman Sari, Kota Salatiga. Semua masyarakat antusias menyambut kedatangan seorang pemimpin besar. Semuanya menantikan kedatangan Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia. Kedatangan Soekarno dalam rangka kunjungan kerja ke Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengetahui akan menyempatkan diri singgah di Salatiga, warga Salatiga sudah berdatangan sejak pagi.

Saat itu Soekarno akan menyampaikan pidato keramatnya, di sebuah lapangan besar yang terletak di depan Gedung Ramayana di Jalan Jenderal Sudirman sekarang. Saat ia datang dan mulai menyampaikan orasinya, semuanya hening menunggu pekik merdeka sebagaimana kata pembuka dari pidato kebanyakan putra sang fajar ini. Namun tak dinyana, Soekarno tak menyampaikan pekiknya. Justru, sang presiden melantunkan lagu Jawa yang sedikit dipelintirnya. “Suwe ora jamu. Jamu pisan jamu kapulogo. Suwe ora ketemu. Ketemu pisan nang Solotigo…”. Masyarakat setempat pun bergemuruh melihat pemimpinnya menyampaikan salam cinta untuk rakyatnya. Usai pidato, Bung Karno dikerumuni rakyatnya yang ingin bersalaman dengan sang presiden.

Setelah menyapa rakyatnya, Soekarno kembali memasuki rumah Dinas Wali Kota Salatiga yang tak jauh dari sana. Saat jam makan siang, Bung Karno mencari-cari masakan yang membuat seleranya tergugah. Dari beberapa hidangan yang tersaji di rumah tersebut, ada satu hidangan yang membuat Bung Karno tertarik dan memang itu merupakan masakan favoritnya : sayur lodeh. Kelezatan sayur lodeh yang dimakan secara lahap, membuat Soekarno bertanya-tanya, siapa perempuan yang mampu membuat sayur lodeh selezat ini.

Saat diminta menghadap sang presiden, keluarlah sosok cantik, tinggi semampai berkulit kuning langsat. Sosok perempuan itu adalah Hartini, perempuan 28 tahun yang saat itu telah bersuami dan tinggal persis di depan rumah dinas wali kota. Saat itu, ada dua perempuan yang sebenarnya membuat hati Bung Karno terpikat. Selain Hartini, ada perempuan lain yang bernama Singgih. Hanya saja, saat itu Hartini tidak sengaja menginjak sepatu sang presiden. Hal itu yang kemudian, membuat Soekarno semakin penasaran.

Entah bagaimana ceritanya, Soekarno menemukan cinta lain dalam diri Hartini. Sejak pertemuan di Istana Wali Kota itu, Soekarno saling bertukar surat dengan Hatini. Selama dua tahun, upaya Bung Karno dalam merayu pun berbuah hasil. Hingga akhirnya, sepasang manusia itu menikah di Bogor pada 7 Juli 1954.

rumah-dins

Bangunan rumah dinas Wali Kota Salatiga ini dibangun sekitar pertengahan abad ke 19. Pada 1903, rumah kokoh berpilar arsitekur Jawa-Eropa ini dulunya merupakan rumah tinggal asisten residen. Sejatinya, di dalam kompleks dinas wali kota sendiri berdiri dua bangunan. Satu bangunan lainnya merupakan bangunan lebih tua yang dibangun pada 1823. Bangunan itu merupakan kediaman Majelis Tinggi Gereja GPIB Taman Sari. GPIB Taman Sari, yang berhadapan dengan rumah dinas wali kota, adalah gereja tertua yang ada di Salatiga. Bangunan peribadatan itu juga dibangun pada 1823.

Satu hal lagi, di rumah bekas asisten residen tersebut juga terdapat sebuah prasasti berinskripsi yang dibuat pada 1997 oleh duta besar Prancis, Thierry de Beauce. Melalui prasasti itu, didapat keterangan bahwa penyair besar Prancis, Jean Nicolas Arthur Rimbaud (1854-1991) pernah ke Salatiga dari 2 sampai 15 Agustus 1876. Juga tertulis dalam prasasti di dinding itu, Aux pays poivres er detrempes (Negeri ini banyak lada dan beriklim basah).

Sementara itu, rumah Hartini atau lengkapnya Siti Hatini juga masih berdiri persis di hadapan rumah dinas wali kota di sebelah Jalan Diponegoro. Rumah bergaya Eropa abad 20 itu merupakan bekas kediaman pemilik perkebunan asal Belanda. Pada 1950 rumah tersebut dimiliki Suwondo, suami Hartini sebelum Soekarno. Sejak 1960 hingga 1980, rumah yang berdampingan dengan Apotek Vitra itu pernah menjadi kantor Kejaksaan Negeri Salatiga. Bentuk bangunan rumah bercat kuning itu masih sebagaimana adanya sejak awal. Hanya isi peninggalannya saja yang sudah tidak ada sama sekali.