Hidup Sendirian di Gubuk, Nenek Ini Sembunyikan Penyakitnya

Mbah Waliyah saat pertama kali ditemukan relawan (foto: dok pri)Mbah Waliyah saat pertama kali ditemukan relawan (foto: dok pri)

Waliyah (85)  warga Dusun Karangsalam RT 1 RW 1, Desa Segiri, Pabelan, Kabupaten Semarang sungguh ngenes hidupnya. Ia yg sebatangkara, tinggal di gubuk reyot di ujung dusun. Tak ada fasilitas MCK, sehingga dirinya tidak pernah mandi. Seperti apa penderitaan nenek tersebut, berikut catatannya.

Rumah nenek Waliyah yang biasa disapa dengan panggilan mbah Waliyah, berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Salatiga. Posisinya di pojok, dekat kebun bambu dan hanya ada jalan setapak. Ketika saya mengunjunginya, beliau tengah tiduran di ranjang kayu tanpa kasur mau pun bantal. Fungsi ranjang itu, bukan sebatas untuk beristirahat, namun juga dimanfaatkan menaruh beragam barang. Sehingga, hanya menyisakan ruang sedikit bagi dirinya.

Begini kondisi rumah mbah Waliyah (foto: dok pri)
Begini kondisi rumah mbah Waliyah (foto: dok pri)

Rumah mbah Waliyah berukuran sekitar 4 X 6 meter, berdinding papan lapuk sehingga terlihat lobang- lobang menganga. Kondisinya gelap gulita di siang hari, karena selain tidak ada lampu penerangan, gubuk tersebut ternyata tak memiliki jendela. Berlantai tanah, sedangkan gentingnya sudah banyak yang pecah. Untuk menyiasatinya saat hujan, sang nenek memasang dua payung usang di di atas tempat tidurnya.

Tak terlihat kasur, bantal mau pun selimut yang bisa menghangatkan tubuh rentanya. Ketika menyambut tamu yang datang, mbah Waliyah bertelanjang dada sehingga bentuk tubuhnya yang dipenuhi keriput jauh dari kesan sexy. ” Biar kalau sewaktu- waktu meninggal, orang tidak repot menyopot baju yang saya pakai,” jelasnya sewaktu ditanya kenapa enggan memakai baju.

Karena mbah Waliyah belum makan, kebetulan ada relawan Lensa (Lentera Kasih untuk Sesama) yang membawakan nasi bungkus, maka beliau diminta mengisi perutnya terlebih dulu. Sembari menikmati nasi ayam goreng, ia diajak berbincang. Sayang, indera pendengaran mau pun penglihatannya telah jauh berkurang. Untuk menggali jati dirinya, terpaksa harus setengah berteriak.

Tungku ala kadarnya milik mbah Waliyah (foto: dok pri)
Tungku ala kadarnya milik mbah Waliyah (foto: dok pri)

Usai menyantap nasi bungkus, seperti galibnya orang kebanyakan, pasti membutuhkan air untuk mendorong makanan ke lambung. Ternyata, duh..di gubuk ini taka da air minum setetes pun. Akhirnya salah satu relawan segera bergegas membeli dua botol air mineral ukuran besar. ” Tidak pernah minum dan tak pernah mandi, wongtidak ada air,” katanya dalam bahasa Jawa.

Sepertinya, penderitaan nenek satu ini sangat komplit. Tinggal di rumah yang hampir roboh. Tak ada fasilitas MCK, makan hanya dari pemberian warga dan tidak mempunyai harta apa pun. Bisa disebut, satu- satunya harta berharga yang dimilikinya hanya raganya yang telah membungkuk mirip udang itu. Siang mau pun malam, selalu dalam kegelapan serta kesendirian.

Sedangkan perkakas dapur yang dimilikinya hanyalah tungku , terbuat dari susunan genting. Beberapa alat dapur seperti panik mau pun wajan, bentuknya menghitam akibat dibakar menggunakan kayu. Sedangkan di dalam rumah mau pun di luar, berserakan kayu- kayu bakar. ” Itu persediaan untuk memanaskan air kalau ada yang memberi air tawar,” ungkapnya.

Relawan Lensa membersihkan rumah simbah (foto: dok pri)
Relawan Lensa membersihkan rumah simbah (foto: dok pri)

Menyembunyikan Penyakit

Sehari kemudian, puluhan relawan Lensa kembali mengunjunginya. Mereka memandikan mbah Waliyah, di sinilah relawan menemukan penyakit serius di bagian kelamin sang nenek. Terdapat benjolan cukup besar yang selama ini disembunyikannya. Sebab, berdasarkan keterangan warga, dirinya tak pernah cerita mengidap penyakit tertentu. ” Ini kalau dibawa ke dokter, pasti akan dioperasi karena secara kasat mata terlihat parah,” kata salah satu relawan perempuan yang memandikannya.

Diduga keras, mbah Waliyah enggan bercerita tentang penyakitnya karena malu. Kendati virus kepikunan sudah lumayan akut, namun, beliau masih juga memiliki rasa malu. Padahal, bila tak segera memperoleh pengobatan medis, penyakit tersebut bisa semakin parah. Akibat keawaman serta kemiskinannya, benjolan di tempat vital hanya dinikmatinya sendiri.

Para relawan yang membawakan kasur, bantal, selimut, handuk dan sembako, rupanya tak sabar melihat kondisi rumah mbah Waliyah. Mereka bersatu padu membersihkan  kayu bakar yang teronggok di setiap sudut. Selain memasang lampu penerangan yang aliran listriknya diambil dari rumah tetangganya, relawan juga mengganti empat genting dengan genting kaca agar sinar matahari bisa masuk ke dalam.

Mbah Waliyah dengan selimut dan bantal barunya (foto: dok pri)
Mbah Waliyah dengan selimut dan bantal barunya (foto: dok pri)

Agar asupan gizi saban hari mampu masuk dalam tubuhnya, Lensa menugaskan seorang relawan untuk mengirim nasi berikut lauknya secara rutin. Pengiriman rangsum tersebut, tanpa batas waktu sehingga di sisa usianya , perut sang nenek selalu terisi. ” Kita agendakan untuk bedah rumah, sebab, rumah ini sangat tidak layak huni,” ujar Atha, Ketua Lensa Kota Salatiga.

Beberapa relawan, sebenarnya sudah tak sabar ingin merobohkan gubuk lapuk tersebut. Namun, karena ada informasi yang menyebutkan bahwa rumah mbah Waliyah telah diusulkan pemerintah desa untuk menerima program bedah rumah, maka niat itu sementara ditangguhkan. Maksimal hingga satu bulan mendatang, bila bantuan program pemerintah belum terealisasi, maka relawan akan membedahnya.

Memberikan cahaya di rumah yang gelap gulita (foto: dok pri)
Memberikan cahaya di rumah yang gelap gulita (foto: dok pri)

Benarkah mbah Waliyah sudah diusulkan untuk mendapatkan bantuan program bedah rumah ? Fahrozi selaku Kepala Desa (Kades) Segiri yang kebetulan juga tinggal satu dusun dengan nenek uzur tersebut, ketika dikonfirmasi, membenarkannya.  Namun, usulan itu baru diajukan seminggu yang lalu memanfaatkan dana aspirasi dewan. ” Ya, kita memanfaatkan aspirasi dewan melalui pak Budi (anggota DPRD Kabupaten Semarang,” jelasnya.

Kades Segiri ketika dimintai konfirmasinya (foto: dok pri)
Kades Segiri ketika dimintai konfirmasinya (foto: dok pri)

Menurut Fahrozi, mbah Waliyah memang sejak dulu hidup sendirian. Untuk makan sehari- harinya, mengandalkan pemberian para tetangganya. Sedang terkait fasilitas MCK, pak Kades sepertinya kesulitan menjelaskan. ” Untuk MCK memang saya kurang memantaunya, karena setahu saya, di rumah tetangganya ada sumur ,” ungkapnya.

Memang, hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah mbah Waliyah, tetangganya memiliki sumur yang untuk mendapatkannya perlu menimba terlebih dulu. Celakanya, tenaga nenek ini sangat tidak memungkinkan menimbanya. Jangankan mengambil air, berjalan kaki saja ia harus dibantu tongkat kayu. Sungguh malang nian   kehidupan sang nenek. (*)