Hateri Ke-32, STI Salatiga Juarai Lomba Senam Tera Kategori Pernafasan Lanjutan

SONY DSCSONY DSC

Oleh : Barnabas Untung Sudianto, Humas STI Kota Salatiga

Tahun 2017 ini, Senam Tera Indonesia (STI) telah berusia 32 tahun. Perayaan Hateri pada tanggal 11 dan 12 November yang dilaksanakan di Blitar meliputi Konggres Nasional, Lomba Pernafasan Lanjutan, Lomba Disco Pertama, Dance Daerah, dan Gebyar STI. Kongres Nasional  diikuti oleh para seluruh pengurus mulai dari Dewan Pengurus Pusat (DPP), Dewan Pengurus  Daerah (DPD), dan Dewan Pengurus  Cabang (DPC) dari Sabang sampai Merauke. Upacara pembukaan ditandai secara simbolis dengan ikrar fairness oleh setiap wakil dari para peserta lomba dan juga wakil juri.

Dalam puncak perayaan Hateri ke-32, dance daerah dan gebyar STI dihadiri sekitar 17.000 terawan dan terawati serta simpatisan yang memenuhi alun-alun Kota Blitar serta ruas-ruas jalan sekelilingnya. Lomba Pernafasan Lanjutan diikuti 39 tim dari seluruh kabupaten/kota se-Indonesia, sedangkan untuk Lomba Disco Pertama dibatasi hanya untuk 55 orang.

Sementara itu, kontingen kota Salatiga berangkat menggunakan transportasi 2 bus. Tim STI dan official Salatiga berangkat dan berpartisipasi pada Hateri ke-32. Syukur kepada Allah, Tim STI Kota Salatiga menjadi Juara Pertama pada Lomba Pernafasan Lanjutan.

Pada acara tersebut dihadiri juga oleh gubernur Lemhanas, Letjend Agus Wijoyo. Dalam sambutannya, Agus mengingatkan para hadirin  bahwa ketahanan nasional perlu dan sangat penting. Semua itu harus dimulai dari pribadi terawan/terawati dan simpatisan yang sehat, yang selalu melakukan senam tera, dengan demikian masyarakat pun bisa menjadi tentram.

Sambutan dari Ketua DPP STI , Letjend Pur. Nono Sumpono mengingatkan akan pentingnya kesehatan dengan menyitir kalimat di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat/kuat, sehingga bersama komunitas terawan dan terawati yang ada dapat mewujudkan lingkungan yang indah.

Disela-sela perayaan Hateri kali ini, Walikota Blitar mempersilahkan terawan dan terawati untuk berkunjung ke makam Bung Karno sebagai pembakar semangat nasionalis seluruh peserta. Walikota Blitar mengatakan “bapak/ibu bukan orang Indonesia, kalau tidak mampir ke makam Bung Karno”.