DIANTARA BUDAK, GOBLOK, dan MALING dengan SOTO, AYAM GORENG, dan MOMONG CUCU

Jokowi

Oleh : Saam Fredy Marpaung,
Advokat Salatiga
08157649795

Saya memperhatikan beberapa berita online di tiga-empat hari belakangan ini, kembali menghadapmukakan antara inkunben JKW dengan “capres” PS.

Belum lagi hilang dari ingatan kita, dengan ucapan “BUBAR”-nya, PS kembali “menyerang” dengan kata kunci, “PION”, “BUDAK”, “GOBLOK”, dan “MALING”. Pilihan kata PS kali ini saya anggap sangat keras, atau lebih tepatnya kasar.

Lalu, bagaimana reaksi JKW? Selama libur, rupanya JKW pulang ke Solo bersama keluarga. Yang dilakukan JKW adalah Makan Soto dan Ayam Goreng bareng keluarga, tidak lupa selalu mengendong cucunya, Jan Etes.

Sangat bertolak-belakang, yang satu berapi-api “menyerang”, yang satunya lagi senyam-senyum bersama keluarga, menikmati kehidupan layaknya manusia biasa.

Saya memahami apa yang dilakukan oleh PS. Sebagai mantan tentara sekelas jenderal, dan sempat ikut dalam “pertempuran” di beberapa daerah di Indonesia, PS tampaknya terbiasa dengan “kekerasan”. Atau mungkin memang hal itu yang sengaja dilakukan olehnya dan tim “kepresidenannya” jelang Pilpres 2019.

Beberapa survei masih memberikan keunggulan bagi JKW atas PS. Menurut survei yang dilakukan Median, Februari lalu, menempatkan JKW dengan 35,0 persen, sedangkan PS 21,2 persen.

Salah satu cara untuk menaikan angka-angka tersebut, menurut saya ya dengan “menyerang” secara terus menerus, dan memang itu kelihatannya yang akan digunakan. Untuk satu ini, saya ingat strategi perang, “Hit First, Hit Hard, Keep on Hitting” Laksamana Fisher. Bagi Fisher, “A good offense is a good defense”. Berikut penggalan tulisan Fisher.


“Surprise” – the pith and marrow of war!

Audacity and Imagination beget Surprise

Rashness in War is Prudence.

Prudence in war is Imbecility.

Hit first ! Hit hard ! Keep on hitting ! ! (The 3 H’s)

The 3 Requisites for Success – Ruthless, Relentless, Remorseless (The 3 R’s)

Jika strategi “menyerang” yang akan digunakan, maka dalam hari-hari kedepan, ucapan dengan menggunakan kata-kata “keras” dan “kasar” akan sering sering terucap…

Apakah JKW akan meladeni gaya “keras” dan “kasar” itu? Saya yakin kok tidak. JKW melayani taktik itu dengan “makan soto”, “ayam goreng”, dan “momong cucu”, serta tentunya, “kerja, kerja, kerja…”. Maklum, dia hanya seorang tukang kayu, hanya kerja kesehariannya memasah kayu supaya lebih berguna, bermanfaat bagi orang lain yang menggunakan kayu itu.

Jika JKW melayani dengan “keras” dan “kasar”, itu sebenarnya yang diharapkan kubu sebelah. Dengan harapan “perang” terbuka akan tercipta