Begini Kondisi Tiga Kereta Jenazah Peninggalan Belanda di Salatiga

kereta-jenazah-peninggalan-belanda

Oleh : Bambang Setyawan

Bila orang melewati Jalan Taman Pahlawan Kota Salatiga, bisa dipastikan akan melihat bangunan tua berukuran 5 X 5 meter berwarna merah yang berada di dekat tikungan. Tak banyak yang tahu bahwa di dalam rumah kecil mirip gudang itu tersimpan aset berharga berupa kereta jenazah peninggalan pemerintahan kolonial Belanda.

Bangunan uzur dengan pintu lebar terbuat dari kayu jati itu memang sejak zaman Belanda berfungsi sebagai garasi kereta jenazah yang oleh pemerintah kolonial disebut Lijkoetsen. Tidak hanya satu, namun di dalamnya terdapat tiga buah kereta yang semuanya berbahan baku besi dan sedikit campuran kayu jati. Sepertinya, kaum penjajah menganggap bakal bercokol di republik ini selamanya sehingga kereta jenazah saja sengaja dipersiapkan untuk pemakaian beratus tahun.

Penasaran dengan kondisi tiga Lijkoetsen yang ada, akhirnya Kamis (20/10) siang saya mengunjungi garasi tersebut. Hasilnya, pintu jati tebal digembok rapat-rapat. Melalui celah yang berlobang, dapat diintip ruangan dalam yang gelap gulita. Tepat di depan pintu, banyak nisan dagangan yang sengaja dipajang. Maklum, sebelah bangunan merupakan pedagang nisan.

Melalui bantuan warga setempat, akhirnya pintu dibuka setelah menjalani sedikit “interogasi” perihal kepentingan saya. Di ruangan yang sempit tersebut, tampak tiga unit kereta jenazah yang parkir membisu. Susah dibayangkan bila sekian ratus tahun yang lalu, kendaraan yang ditarik kuda ini sempat membawa jenazah para pembesar Belanda di Salatiga untuk dimakamkan di pekuburan Kerkhof yang terletak di Kelurahan Kutowinangun.

Begini kondisi dua kereta lainnya (foto: dok pri)
Begini kondisi dua kereta lainnya (foto: dok pri)

Secara sekilas terlihat kondisi kereta jenazah masih dalam kondisi bagus, sayangnya tak pernah mengalami perawatan sehingga banyak debu menempel. Entah kapan terakhir kalinya kereta-kereta ini dibersihkan. Naga-naganya mungkin telah bertahun-tahun. Padahal, semisal benda bersejarah ini jatuh ke tangan kolektor, nilainya mungkin mencapai miliaran rupiah. Apa lagi kolektornya berasal dari negeri Belanda yang mempunyai ikatan emosional secara langsung.

Dari tiga kereta yang ada, satu sama lain memiliki perbedaan mendasar, yakni pada corak ornamen dan lambang yang terpasang. Ada yang berlambang mahkota, ada pula yang mempunyai simbol burung gagak lambing kematian. Sementara di salah satu kereta terlihat lambangFreemason, yakni logo perkumpulan peribadatan di masa lalu. “Soal Freemason bisa dibaca melalui buku yang ditulis Dr TH Stevens mengenai pergerakan Freemason di Salatiga,” kata warga setempat.

Ini garasi kereta jenasahnya (foto: dok pri)
Ini garasi kereta jenasahnya (foto: dok pri)

Tidak Setiap Kota Memilikinya

Perihal kondisi yang memperihatinkan tiga kereta jenazah yang diduga sudah berusia ratusan tahun ini, sepertinya hingga sekarang pihak pemerintah Kota Salatiga belum mengambil langkah-langkah pengamanan. Selain garasinya masih berbentuk bangunan kuno, tingkat keamanan terhadap benda bersejarah tersebut sangat minim. Selain tak terlihat adanya penjaga khusus, gembok yang terpasang relatif mudah dicongkel. Padahal, setelah pukul 00.00, situasi Jalan Taman Pahlawan sangat sepi.

Berdasarkan keterangan, tahun 2014 lalu, pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah telah menurunkan tim ke Salatiga. Mereka mengunjungi garasi kereta untuk memastikan bahwa tiga kereta tersebut masuk katagori barang cagar budaya. Hasil penelitian menyebutkan, kereta-kereta tersebut diduga merupakan produk 200 tahun lalu. Dengan kondisinya yang sekarang, BPCB mendesak dinas terkait untuk segera merelokasinya. Pasalnya, garasi yang ada dianggap tidak representatif.

Masih bagus tapi tak terurus (foto: dok pri)
Masih bagus tapi tak terurus (foto: dok pri)

Menurut pihak BPCB Jawa Tengah, kereta sejenis biasanya hanya terdapat di keraton-keraton. Namun, yang ini malah di Salatiga yang notabene belum pernah berdiri keraton ataupun kerajaan di masa lalu. Meski begitu, hal ini bisa dimaklumi mengingat Salatiga dulunya merupakan kota militer di zaman pemerintahan kolonial Belanda. Cuma sekedar catatan, tidak setiap kota mempunyai koleksi kereta sejenis.

Diduga, kereta-kereta ini dipergunakan untuk membawa jenazah untuk dimakamkan di Krekhof yang dulunya berlokasi di dekat garasi. Meski sama-sama berdarah Belanda, untuk memanfaatkan kereta tidak bisa asal-asalan alias harus sesuai status sosialnya. Terkait hal itu, sengaja dibuat tiga kereta yang berbeda. Sedang bagi warga pribumi, bisa menggunakannya dengan catatan memiliki talian darah biru maupun memiliki jabatan di pemerintahan.

Di balik kondisi tiga kereta jenazah tersebut, sebenarnya banyak kisah berbau mistis yang menyelimuti garasi berikut isinya. Mulai dari mengamuknya kuda dokar setiap kali melewati jalan di depan garasi pas pintu terbuka hingga sering terdengar suara-suara aneh di tengah malam. Karena hal ini bila didalami akan menimbulkan keresahan, sangat bagus diabaikan saja.

Sampai sejauh ini, pihak pemerintah Kota Salatiga yang biasa diwakili Dinas Perhubungan Komunikasi Budaya dan Pariwisata belum melakukan tindakan apa pun terhadap tiga kereta sarat sejarah itu. Entah sampai kapan benda cagar budaya tersebut dibiarkan di tempatnya. Yang jelas, semisal dibuatkan garasi terbuka, wisatawan mampu menikmatinya setiap saat. Bukan malah diperam seperti sekarang. (*)